Status Dari 14/05/08: 1 User Online, Total Hari Ini :2, Total Pengunjung : 1689
29  01 2009

Dini Si Nona Kosan

“Karena merasa merepotkan keluarga pakde di jogja aku terpaksa ngekos di daerah dekat kampus. Tinggal berjalan kaki beberapa menit, aku sudah bisa menginjak lantai kampus gadjah itu.”

“Saya Dini”, jawab seorang gadis sebayaku yang merupakan anak pemilik kos tempat saya tinggal. Aku hanya melontarkan senyum setelah kami berkenalan dan bergegas menuju kamar. Orang yang sangat ramah pikirku, semoga saya akan betah di sini. Sementara suasanya kos itu nyaman dengan beberapa penghuni wanita dan pria. Iya, kos itu campur, tapi 2 orang wanita yang ng-kos di sana tampak seperti ibu-ibu telah berkeluarga yang sedang melanjutkan studi S2 di Kampus Gadjah.

Kebetulan teman sekampus juga tinggal dengan kos berbeda beberapa meter dari kos aku sehingga tiap malam aku senang ngobrol di sebuah angkringan dekat kos hingga larut. Saya memiliki kunci pintu depan kos, akan tetapi sering kali dari dalam tergantung kunci milik penghuni kos di lubang kunci pintu itu, sehingga sesekali saya tidak dapat membuka pintu jika pulang sedikit larut. Tiap kali aku pulang larut, maka si Dini lah yang membukakan pintu hingga suatu malam aku coba untuk bernegosiasi dengannya agar lebih bersahabat.

“Din, saya jadi gak enak nih sering pulang larut. Bikin repot saja yah? Maaf yah? Ngebel mulu lagi, jadi bangun gak ibu kosan?”, aku berkata waktu dia sedang membukakan pintu depan kosan. Dia tersenyum lalu berkata, “Udah sante aja, udah biasa kok, atau kamu save nomor HP saya aja biar gak ngebel”. “Iya iya boleh, soalnya berisik banget tu bel takut ganggu terkadang din”, jawabku. Kemudian dia memberikan no HPnya, dan mengajak duduk sejenak di bangku-bangku warung makan milik ibu kos di ruang depan rumah kos itu. “Eh anak kampus gadjah yah? Jurusan apa? Angkatan berapa siy?”, tanya Dini mengisi kekosongan di ruang kosong itu. “eh, iya anak situ, angkatan baru siy, makanya baru ngekos juga”, jawabku. “Oke, di save deh no ku ya, tadi tu kumiskol ke HP kamu. Thanks berat yah? Ke kamar dulu yah?”, pintaku. “Iya, iya silahkan”, jawab Dini. Tidak beberapa lama bunyi pesan di HP ku, itu dari Dini, isinya: “Udah jangan segan-segan lagi kalo pulang malam, tinggal sms saya soalnya kadang belom tidur siy, kalo gak miskol aja”. Kemudian karena gak enak ya sudah saya balas smsnya, “Iya deh Din, trims berat yah”.

Okey, next nite… Again, pulang telat dan tu pintu gak bisa di buka lagi. Akhirnya saya sms Dini untuk minta tolong dibukakan pintu kosan. Setelah menunggu sesaat, pintu depan pun terbuka. “Makasih ya Din, jadi merepotkan”, sambil tersenyum aku lontarkan kepada Dini. “Iya nyante aja, aku juga lagi nonton kok di warung”, Jawabnya. “Wah, udah lama aku gak nonton tv, ikutan nonton yaks?”, tanyaku. “Iya nonton aja, kalo kagak ada kerjaan di kamar juga nonton aja di warung, kalo gak ada orang nyalain aja”, jawab Dini. Akhirnya kita berdua nonton tv di warung dalam kos itu, sambil ngobrol dan menjalin keakraban. Untung tak ada setan yg jadi pihak ketiga. :p ah jorok aja niy pikirannya.

Karena terlalu larut, aku menyarankan untuk istirahat dan bergegas menuju ke kamar. Tiba-tiba bunyi sms di HP berdering, itu dari Dini. “Thanks ya dah nemenin nonton tadi, seneng banget bisa ngobrol sama kamu”, isi pesan dari Dini. “Ah kudunya aku kali yang berterima kasih, udah ngerepotin mulu Din”, jawabku. “Wah, akuw tu terobsesi banget sama anak kampus Gadjah, makanya senang aja bisa ngobrol sama kamu.” Balasnya lagi. “Hahaha, kaya apa aja tu kampus ya? Biasa aja kali Din, kenapa gak ngelamar ke kampus itu aja dulu?” jawab ku. Si Dini makin gencar dengan terus membalas sms berbunyi, “Seneng aja, apalagi punya pacar kayak kamu! dulu gak keterima di kampus itu”. Alamak, aneh banget cewek ini, baru beberapa kali berbincang ngmongnya sudah nyerempet aja. Akhirnya ku jawab, “Aduw berlebihan deh Din, gw biasa aja. Istirahat dulu yuk, besok ngampus”.

Besoknya, Dini sms lagi ketika saya baru pulang kuliah. “Eh, kamu belom jawab pertanyaan aku semalam, gimana? diterima gak aku jadi pacar kamu?”, isi pesan singkat dari Dini. Aduh, gak enak nih, masa pacaran sekosan, yang punya kosan lagi, berabe! Tampang, lumayan body berisi, kelakuan so far gak ada yang aneh sih. Waduh, pilihan yang sulit pikirku, sampai ingin makan siang keluar aja jadi tak jadi-jadi. “Ok, kita coba aja yah jalaninnya …”, akhirnya terbalas lah sms Dini. Apa yang akan terjadi, entahlah terjadilah. Jadi canggung kalo ketemu ibu kos, malah sering di luar kos ketimbang di kosan karena kejadian itu.

Udah dulu yah ceritanya, kayaknya untuk ending ga enak ceritainnya. So far tidak terjadi hal-hal yang aneh-aneh ketika berpacaran dengan seorang anak Ibu kos. Yang ada, Makan sering gratis, dapat tambahan makan di malam hari, ada yang bangunin pagi, malah mo nawarin di cuciin, tapi ku tolak karena gak enak. Yeah! Mantaps…


21  12 2008

Ketika Mengambil Keputusan

Saya sarjana bergelar science Atau biasa disingkat S,Si. Betul, saya adalah mantan mahasiswa MIPA (Matemetika dan Ilmu Pengetahuan Alam) tepatnya jurusan Fisika UGM, Yogyakarta. Saat itu memang dengan sangat terpaksa saya harus kuliah di jurusan Fisika karena memilihnya saat SPMB sebagai pilihan ke-2 dari 3 pilihan yang ada. Karena merasa kurang dengan bidang Fisika saat di Sekolah Menengah, maka saya putuskan, jika tidak tembus ITB maka saya siap mendalami ilmu Fisika di UGM terlebih dahulu, kemudian bermaksud mengambil SPMB di tahun berikutnya untuk kembali menargetkan ITB.
Sayang di tahun berikutnya, biaya kuliah semakin bertambah dan saya tidak tega untuk menyianyiakan uang kuliah yang telah dikeluarkan orang tua untuk membiayai kuliah di UGM. Oleh karena itu saya putuskan untuk membatalkan niat saya dan harus berjibaku meneruskan kuliah yang ada di Fisika ini.
Walau tak suka, harus kujalani dan kulewati, berusaha bahwa inilah jalanku, dan inilah tempat kuliahku, bukan ITB atau manapun, jalanku adalah di UGM, di Fisika UGM.
Karena tak sesuai dengan minat yang kuingini tak heran kalau aku terkadang merasa bahwa aku muak dengan mata kuliah yang ada, semua pemikiran dosen fisika dan lain sebagainya. Hingga pada akhirnya aku ingin semua ini tetap bisa berjalan sesuai dengan yang kuinginkan, maka saya menyusun beberapa strategi agar segala sesuatunya berjalan lancar di kehidupan akademisku.
Maka pertama kuputuskan memilih bidang yang kuminati di fisika tersebut, yaitu Fisika Komputasi. Alasan saya memilih bidang ini adalah karena saya ingin bekerja pada sebuah Perusahaan IT di Bandung milik rekan seasrama dulu, selain itu saya senang mengikuti mata kuliah Komputasi terutama dalam menyelesaikan kasus-kasus fisika menggunakan bahasa pemrograman science. Setelah itu maka, saya mulai menyusun target matakuliah komputasi pilihan beserta dengan target-target nilai sesuai SKS tiap matakuliah agar nilai akhir bisa sesuai dengan yang saya harapkan. Tidak hanya itu, beberapa mata kuliah cadangan untuk menutupi kekurangan nilai bila saja terjadi telah dipersiapkan dengan matang dalam sebuah buku catatan kuliah yang malahan jarang untuk di jadikan catatan kuliah :P.
Aku termasuk menjadi mahasiswa yang memiliki pandangan yang berbeda di antara kawan-kawan seangkatanku, karena telah memiliki target yang jelas-jelas berbeda dengan yang lain.
Hingga akhirnya saya lulus dengan Tugas Akhir di Minat Fisika Komputasi untuk menyelesaikan kasus fluida dinamik gas pada atmosfer planet. ^_^
Dan sekarang menjadi praktisi IT di sebuah perusahaan di jakarta tentunya. Bukan di bidang Fisika seperti yang mungkin di harapkan para dosen-dosen saya.


18  11 2008

Kebiasaan Orang Sukses

Kesuksesan adalah obsesi setiap insan di dunia ini. Dan apapun akan diusahakan untuk meraih sukses itu. Memang, walau ukuran sukses bagi tiap orang berbeda-beda, tetapi apapun judulnya pastilah setiap orang ingin sukses. Mungkin banyak yang masih bingung, bagaimana sih mencapai sukses itu? Apakah harus selalu bekerja keras, pantang menyerah, dan tidak mengenal lelah?

Selengkapnya


24  08 2008

Gombalkah aku? : Eidelweiss in Valentine

Romansa di hari valentine kota jogjakarta, segenap pria berdatangan pada sebuah tempat di sudut kota tersebut yang menjajakan aneka macam bunga dalam bentuk pertangkai maupun rangkaian bunga. Saat itu aku hanya seorang mahasiswa junior tingkat pertama. “Ternyata seromantis itu kah pria-pria ini di hadapan dara pujaannya?”, tanyaku dalam hati sambil melintas di setapak jalan itu. Aku meneruskan perjalananku menuju kost dengan seribu tanya dan sesekali tersenyum geli mengingat apa yang telah kulihat.

Selengkapnya


13  06 2008

CARAKU MEMILIH MATAKULIAH

Bukan kemunafikan kalau saya tidak menargetkan IPK tinggi semasa kuliah. Jauh di dalam benak dan jiwaku semenjak SMU tertanam prinsip “Nilai Bukanlah Segalanya, belajar bukan untuk nilai”. Target nilai IPK saya saat itu adalah 2,75. Bukan nilai yang tinggi, dan bukan pula nilai murahan yang bisa di raih tiap insan. Ini bukan syarat untuk bekal bekerja, bukan syarat yang ditentukan oleh kedua orangtua saya, apalagi syarat yang diharuskan oleh Universitas di mana saya kuliah. Syarat itu adalah target saya, bukan target siapa-siapa, dan bukan target untuk apa-apa. Saya hanya belajar menanamkan tanggung jawab untuk diri saya sendiri.
Selengkapnya


13  06 2008

Study Oriented Vs Anak Bangsat

Saya memasuki dunia kultur yang sangat berbeda ketika menginjakkan kaki di bangku kuliah. Sebelum kuliah saya bersekolah di Bandung, kemudian saya melanjutkan study di Universitas Gadjah Mada pada jurusan Fisika. Fenomena manusia antara Bandung dan Jogjakarta sangat jauh perbedaannya. Irama kota yang santai, sopan, santun, penuh dengan tradisi aseli Indonesia tertanam keras di wajah kota Jogjakarta ini. Jauh halnya dengan Bandung, hidup ala metropolis dengan segala trend yang kerap bermunculan di sana sini. Selengkapnya


13  06 2008

SARJANA Yang Masih MUDA

Sarjana Muda, aku teringat dengan sebuah lagu bang Iwan F dengan judul sarjana muda, sehingga saya terinspirasi untuk menuliskan pengalaman saya sebagai seorang sarjana yang masi muda. Bukan sarjana muda makna judul lagu bang iwan, kalo g salah, gelar sarjana muda ditujukan untuk D3 dulu. Untuk menyamakan persepsi saja, tapi saya menggunakan sarjana muda saja untuk artian sarjana yang masih muda…boleh kan? Selengkapnya


13  06 2008

Sarung Tangan Jessie…

“Akuw baru saja membaca buku Chicken Soup for the Soul at Work, dan terdorong untuk menuliskan ceritanya di sini… gak lengkap, hanya dengan bahasa ku sendiri ya?”Iseng-iseng, sehabis sholat saya memandang rak buku pada perpustakaan kantor, hahahaha banyak sekali buku tapi jarang tersentuh juga siy. Saya tertarik pada buku steven covey tentang habits-habits yang dia kemukakan, tapi saya sekilas sudah membaca, dan aku pikir perlu waktu lama untuk membaca dan memahami buku itu, dan kemudian tertujulah mataku ke buku chicken soup ini. Selengkapnya


11  06 2008

3 Kiat Studi & Bekerja Keluar Negeri

“Idaman saya yang belom terwujud salah satunya adalah bekerja atau belajar ke luar negeri. Saya juga tidak mengerti kenapa saya ingin sekali tinggal sementara di luar negeri meninggalkan negeri ini. Dan hal itu terngiang sejak saya duduk di bagku SMU kelas 1.”

Mungkin penyebab utamanya adalah karena cerita kawan-kawan yang ada diluar sana. So, jujur kiat ini akan saya jadi kan kiat untuk diri saya sendiri juga tentunya, coz saya sendiri belom punya pengalaman keluar negeri. Karenanya mari kita cerna beberapa kiat ini yang saya simpulkan dari cerita kawan2x saya.

Selengkapnya


06 2008

3 WATAK MAHASISWA

“Salam mahasiswa! Saya jadi terkenang ketika memasuki peralihan status meninggalkan gelar mahasiswa dulu. Ketika telah memasuki dunia kerja, saya tercengang kala berdiskusi dengan bos saya. Beliau menyatakan bahwa watak saya masih membawa watak sebagai mahasiswa. Apa siy watak itu?”

Waktu itu saya sedang presentasi mengenai arsitek aplikasi yang akan saya buat/kerjakan. Saya memaparkan struktur aplikasi, dan bagaimana sistem ersebut mengolah data. Di tengah-tengah perbincangan, sesekali ada pertanyaan dari bos-bos saya mengenai sistem yang saya buat. Mereka tidak setuju dengan inilah, dengan itu lah, hehehhehe malah curhat :)

Nah, kemudian disela-sela pertanyaan tersebut saya sering melontarkan pernyataan bela diri atas sistem yang telah saya buat. Kemudian pada pernyataan saya yang cukup keras mempertahankan argumen saya, bos berkata anda ini seneng banget sih berdebat! Saya nyengir… Kemudian beliau berkata anda masih membawa watak sebagai mahasiswa. Mahasiswa selalu mempertahankan argumennya berdasarkan wawasan yang dia miliki saja tanpa memperhitungkan aspek disekitarnya? Benarkah demikian? Coba kita telusuri satu persatu.

Selengkapnya


Next Page »